Archive for the ARTIKEL Category

Andai Kamu Bisa Tersenyum

Posted in ARTIKEL on Desember 28, 2010 by imamasyk

Terkadang hidup  harus berhenti sejenak untuk dapat memikirkan tentang apa yang sudah kita lakukan, berfikir untuk merenung, merenung untuk kebaikan, kebaikan untuk diri dan orang lain. Kalau toh belum bisa berbuat yang terbaik, paling tidak pernah berbuat satu kebaikan, walaupun itu kecil dan tak berarti, tapi itulah yang terbaik dari sekedar diam tak berbuat…

 

Ketika aku belajar mendengarkan apa yang dikeluhkan anak didikku tentang karakter seorang guru dalam mengajar, ada yang bilang :  “aku ga mau jadi guru ahh…”

“Kenapa?” tanyaku..

“guru kok gak pernah membuat siswanya tersenyum… sukanya marah-marah, kasih tugas… pa ga boleh to guru tu frendly… gaul gitu… biar muridnya seneng dan bisa belajar dengan suka tanpa tekanan?” dengan mimik protes kaya artis…

Kedengarannya lumprah saja kalau ada murid yang menggunjing guru, tapi sempat membuat telingaku tersentuh dan segera terbayang ketika aku masih menjadi siswa. Memang ada sebagian karakter guru yang seperti itu, tapi itu dulu. Di era sekarang tampaknya banyak hal yang berubah. Anak didik lebih kritis, lebih kaya pengetahuan, lebih menuntut peran serta dan penghargaan sebagai individu, sehingga mau tidak mau guru mempunyai tantangan baru untuk memerankan diri sebagai pendidik yang dikehendaki anak dengan tanpa meninggalkan sebagai “sosok” pribadi seorang guru, agar kita tidak “ditinggalkan” dalam memberi warna kehidupan bagi mereka.

 

Tugas berat guru sebagai pendidik, tidak hanya sekedar mengajarkan apa yang seharusnya diajarkan, tetapi lebih pada muatan bagaimana bisa memberikan motivasi dan nuansa indah agar mereka mau dan tahu bagaimana seharusnya belajar yang bermakna. Belajar dengan sepenuh kesadaran dan ketulusan. Bagaimana membuat mereka tersenyum atau tertawa.. dan menanamkan image bahwa belajar itu kebutuhan, belajar itu menyenangkan, belajar itu membanggakan. Sehingga tidak ada lagi amarah yang terdengar dari seorang guru, tidak ada lagi kecemasan pada diri siswa. Yang ada adalah senyum dan semangat belajar bersama untuk bisa. Pasti terasa indah…

 

Semoga.. di sisa pengabdian kita sebagai guru,  masih sempat membuat anak didik kita tersenyum dan mengenangnya sebagai memori indah untuk dapat diceritakan kepada anak cucunya kelak dan yang lebih penting lagi bisa terpateri sebagai pribadi yang membanggakannya. Betapa indahnya kalau seorang murid membanggakan gurunya dan guru membanggakan muridnya… Luar biasa… Sungguh suatu pembelajaran yang bermakna….semoga…. sipPz…

Iklan

KEBAHAGIAAN SEORANG GURU

Posted in ARTIKEL on Desember 5, 2010 by imamasyk

Sekian lama tak pernah update blog, rasanya kangen juga untuk mencurahkan apa yang tersirat di hati… maklum.. passwordnya sempat menghilang dari peredaran… hhe… tapi alhamdulillah sekarang sudah bisa bernafas lagi…

 

Lebih dari dua puluh tahun mengabdi di dunia pendidikan, baru tiga tahun ini bisa merasakan nikmatnya sebagai pendidik. Bisa membuat tersenyum anak didik, melahirkan kepuasan tersendiri bagi guru. Bisa merubah mereka menjadi lebih bersemangat, ada rasa bahagia di hati. Bisa membuat mereka mencintai pelajaran Fisika, sungguh mengajar itu adalah sebuah seni.

 

Dan seiring perkembangan teknologi seperti sekarang ini, tak bisa dipungkiri… mau tidak mau, setuju atau tidak, kita harus mau dan mampu membuka mata dan telinga untuk mengupgrade diri terhadap perkembangan iptek demi  profesionalisme guru. Kemampuan bahasa Inggris, ICT kemauan untuk terus belajar dan belajar menjadi keharusan yang wajib dimiliki setiap insan pendidik. Bagaimana kita bisa memanfaatkan kemajuan iptek untuk kemudahan dalam pendidikan. Jangan lagi gaptek… lebih semangat belajar demi memberi bekal anak-anak bangsa untuk menghadapi kehidupan dunia mendatang.

 

Semoga disisa usia dan pengabdian ini, kita bisa menjaga niat dan tekat untuk bisa mengajar sepenuh hati, menjadi guru yang dirindukan siswanya. Bisa mendo’akan anak-anak agar sukses dan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. amin…

 

Dengan SEMANGAT BERBAGI dan BERSAMA KITA BISA, mari kita wujudkan DUNIA PENDIDIKAN YANG INDAH. Menjadikan anak-anak Indonesia yang berakhlak mulia, berfikiran cerdas dan berjiwa Indonesia… sipPz….

 

SEKOLAH ZAKAT

Posted in ARTIKEL on Januari 15, 2009 by imamasyk

Sebagai warga negara Indonesia, maka mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan adalah hak, sekaligus kewajiban sebagai umat. Di satu sisi ada keinginan dan minat belajar yang luar biasa, bisa menjadi motivasi tersendiri untuk meraih sukses, namun di sisi lain keterbatasan ekonomi sering menjadi kendala yang menghambat bahkan kadang menumbangkan keinginan untuk meraih cita. Oleh karena itu perlu difikirkan solusi alternatif yang dapat menjembatani antara keterbatasan dan keinginan tersebut. Salah satunya adalah dengan Sekolah Zakat

KESADARAN ZAKAT

Penduduk Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim, tentunya ada sekian prosen yang mempunyai kewajiban untuk berzakat atas kelebihan rejeki yang telah dilimpahkan oleh Yang Maha Kasih kepada mereka. Sesuai dengan tuntunan agama (Islam), bahwa di sebagian rejeki yang dianugerahkan Allah kepada kita, terdapat hak untuk orang lain (fakir, miskin, yatim dan sebagainya). Dan itu wajib dikeluarkan dalam bentuk zakat (mal), infaq, sodaqoh dan lain sebagainya. Itu semua merupakan potensi yang luar biasa yang belum sempat digali, dikelola dan dioptimalkan dengan baik sebagai salah satu sumber dana alternatif untuk membantu masalah ekonomi di bidang pendidikan.

Masalahnya adalah kesadaran untuk mengeluarkan sebagian hartanya sebagai pensuci rejeki, belum seluruhnya terbangun dan membudaya dengan baik. Sehingga perlu tauladan atau “Gerakan beramal dan berzakat” dari tokoh dan pejabat (khususnya di lingkar pemerintah), sehingga bisa langsung dilihat dan dinikmati oleh masyarakat kebanyakan. Maka ke depan diharapkan masyarakat kelas menengah ke atas lambat laun akan terbangun kesadaran untuk peduli terhadap zakat, infaq dan shodaqoh.

Gerakan ini bisa dimulai, misalnya diberlakukan kepada pegawai yang sudah eselon atau yang sudah mencapai pangkat golongan minimal IVa atau kriteria-kriteria tertentu misalnya pengusaha atau kontraktor atau yang lain.

Problem berikutnya adalah keberadaan badan atau lembaga yang mampu mengelola dengan amanah, sehingga ada kepercayaan dan keikhlasan dari semua pihak. Sayangnya kepercayaan ini gampang-gampang susah, tidak bisa dibeli atau dibangun dengan mudah. Perlu proses yang indah untuk mewujutkannya. Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam ikut melakukan fungsi kontrol (sosial) mutlak diperlukan.

ANDAI…. ADA SEKOLAH ZAKAT

Andai ada satu lembaga atau yayasan (semacam pendidikan atau sekolah) yang benar-benar indipendent dan amanah untuk mengelola dana zakat, infaq dan shodaqoh, (Penulis sebut sebagai Sekolah Zakat) yang dikembangkan dan disalurkan dalam bidang pendidikan, mulai dari strata pendidikan yang paling rendah hingga jenjang pendidikan tinggi, dengan skala prioritas tertentu, amboy……pasti akan banyak kaum dhuafa dan fukhoro masakin yang akan tersenyum dan berdoa untuk kelangsungannya.

Ambil contoh, ada yayasan pendidikan “El Syukur” misalnya, sebagai lembaga yang dipercaya masyarakat untuk mengelola dana yang digalang dari zakat, infaq dan shodaqoh umat untuk pendidikan. Kemudian Pengelola membebaskan seluruh beaya pendidikan semua siswanya yang notabene siswa dari kalangan kurang mampu, (mulai uang seragam, uang buku, BP-3, uang kegiatan dan sebagainya), karena semua beaya operasional pendidikan sudah tercukupi dari zakat, infaq dan shodaqoh. Tentulah yang demikian itu akan menjadi mercusuar pendidikan kebanggaan umat sekaligus sesuatu yang perlu dikembangkan untuk masa yang akan datang.

EMBRIO GERAKAN NASIONAL

Kita semua makfum dengan kondisi dan realitas sekarang. Betapa mahalnya beaya pendidikan untuk perguruan tinggi. Akankah anak-anak bangsa yang jauh dari kemakmuran ekonomi bisa mengenyam bangku perguruan tinggi tanpa adanya solusi dan kebijakan yang memihak pada mereka? Semoga Undang-undang BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang telah disahkan bisa menjadi sedikit harapan, walau banyak mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan, pastilah lambat laun akan menjadi hal yang biasa. Dan itu dirasakan oleh sebagian masyarakat sebagai pil pahit yang menjadi tantangan yang harus ditaklukkan dengan berbagai solusi yang bijak. Mungkin dengan zakat, infaq dan shodaqoh pula bisa menjadi beasiswa yang berkah dan barokah untuk mereka yang benar-benar perlu dan memerlukan bantuan pendidikan.

Image yang berkembang di masyarakat bahwa kran pendidikan bermutu hanya milik dan hanya bisa dinikmati oleh sebagian mereka yang mampu secara ekonomi tidak semuanya benar. Ternyata ada sebagian anak lain yang berada di bawah garis impianpun juga bisa mendapatkan pendidikan yang baik lewat Sekolah Zakat ataupun Gerakan sadar zakat, infaq dan shodaqoh.

Semoga ke depan ini semua tidak hanya sekedar menjadi polemik benar salah atau hanya sekedar ide saja, tetapi bisa menjadi mimpi nyata yang indah, khususnya di daerah sekecil Nganjuk. Tentunya bisa menjadi embrio yang kelak menjadi Gerakan Nasional. Semoga….. Amin.

Drs. Imam Abdul Syukur

Guru Fisika SMA Negeri 1 Nganjuk

SEMANGAT BELAJAR DENGAN YEL-YEL

Posted in ARTIKEL on Januari 10, 2009 by imamasyk


Belajar berkompetisi secara team memerlukan banyak hal untuk membangun semangat untuk belajar. Salah satunya dengan yel-yel yang dapat membangkitkan gairah dan motivasi untuk maju dan peercaya diri.

EMBRIO KELAS KHUSUS

Posted in ARTIKEL on Januari 5, 2009 by imamasyk

Antara Harapan Dan Tantangan

Berangkat dari sebuah obsesi untuk memajukan pendidikan di kampus SMARI EKA, khususnya di bidang akademik maka sejak 6 September 2004 telah terbentuk Kelas Khusus yaitu kleas X-9 dan II-9. Konsep Kelas Khusus sendiri sebenarnya telah mengemuka sejak tahun ajaran 2003-2004 yang lalu. Dengan segala daya dan potensi yang ada, maka konsep Kelas Khusus terus digodog dan dimatangkan secara marathon oleh sebuah tim yang telah dibentuk sebelumnya, tentunya dengan memperhatikan semua masukan yang ada. Dengan satu tekad mewujudkan Kelas Khusus sebagai suatu terobosan pendidikan untuk menghasilkan output pendidikan yang optimal.

Ide Kelas Khusus

Konsep Kelas Khusus sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang eksklusif, tetapi hanyalah sekedar mengkolaborasikan semua potensi maksimal ke dalam satu wadah yang kondusif sehingga diharapkan akan menghasilkan siswa yang cemerlang dalam prestasi akademik, santun dalam etika dan tingkah laku serta tangkas dalam olah ketrampilan. Adapun potensi itu adalah :

1. Potensi akademik siswa di atas rata-rata (melalui tes akademik dasar)

2. Sarana pendidikan yang lebih memadai dan menunjang proses belajar mengajar

3. Proses pendidikan yang lebih kondusif (pembelajaran yang menggairahkan)

Dengan konsep dasar semacam itulah maka Kelas Khusus harus dibuat berbeda dari kelas reguler. Perbedaan itu antara lain :

1. Sarana kelas, didesain sedemikian rupa sehingga membuat siswa betah berlama-lama dan enjoy dalam belajar

2. Jam tambahan sepulang sekolah selama tiga hari seminggu (sampai jam 15.30)

3. Proses belajar mengajar yang mengedepankan pada penggalian kesadaran belajar dengan basic Kooperatif Learning dan Quantum Learning dengan panduan Team Teaching

4. Managemen penanganan pendidikan yang lebih prima

5. Pembeayaan yang lebih dari kelas reguler (tidak semua siswa dikenakan beaya pendidikan yang sama, tergantung dari kemampuan ekonominya)

6. Studi Lapangan Komprehensif (sementara dilakukan tiap triwulan)

Kelas Khusus juga dalam rangka memenuhi harapan sebagian masyarakat (orang tua/wali) agar anaknya yang notabene berkemampuan lebih, untuk mendapat pelayanan pendidikan dalam porsi yang lebih juga dengan tanpa mengabaikan atau mengurangi porsi standart dari kelas reguler. Jadi keberadaan Kelas Khusus bukan dalam arti mendiskriminasikan siswa-siswa tertentu, tetapi justru memberikan porsi yang layak bagi seluruh siswa sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Tentu banyak kendala dan kekurangan yang harus segera diantisipasi dalam rangka mengamankan dan melancarkan jalannya Kelas Khusus agar tepat mencapai sasaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Di sinilah perlunya mengapa tiap akhir bulan selalu diadakan eveluasi dan koordinasi dari seluruh team, termasuk Kepala Sekolah dan semua guru yang terlibat dalam pengajaran di Kelas Khusus. Dari situ akan banyak sharing problem dan masalah, sekaligus titik temu dan solusi yang harus diambil. Oleh karena itu perlu saling merapatkan barisan dan meluruskan shof dari seluruh komponen SMARI EKA, agar langkah awal yang baik ini dapat terus berkesinambungan sehingga citra Kelas Khusus ke depan dapat berjalan lebih baik.

Untuk penerimaan murid baru tahun ajaran 2005-2006, keberadaan Kelas Khusus harus sudah tersosialisasikan dengan baik ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga anemo dan antusias masyarakat (khususnya lulusan SMP) terhadap Kelas Khusus tinggi. Idealnya, satu ruang Kelas Khusus tidak lebih dari 26 siswa, sehingga penanganan dan pengawasan terhadap perkembangan potensi dan evaluasi sebagai alat kontrol akan lebih efektif. Dengan sistem seleksi yang komprehensif dan integrited , diharapkan profil siswa ideal sebagai output Kelas Khusus dapat segera terwujud.

SEUNTAI HARAPAN

Output Kelas Khusus sebagai ujung tombak prestasi akademik, telah dimulai dengan pengkaderan sekaligus perintis duta-duta Olimpiade Fisika 2006, diambil 7 (tujuh) orang yang seluruhnya dari Kelas Khusus (5 orang dari kelas X-9 dan 2 orang dari II-9), dengan harapan akan membuahkan Fisikawan-fisikawan yang mampu berlaga dan berprestasi di tinggkat kabupaten, propinsi dan nasional atau bahkan tingkat internasional. Begitu juga untuk olimpiade Matematika, Biologi, Kimia dan komputer, sebagian besar berasal dari Kelas Khusus. Belum lagi mereka yang berperan sebagai aktivis OSIS dan pengurus berbagai ektra. Ini semua menjadi gambaran bagi kita bersama bahwa profil Kelas Khusus benar-benar dapat diharapkan hasilnya.

STUDI AKADEMIK

Sebagai gambaran, hasil dari Studi Akademik 8 Desember 2004 yang lalu ke daerah Surabaya dan sekitarnya diikuti oleh seluruh siswa Kelas Khusus ditambah 17 aktivis OSIS / Jurnalis dan 18 orang guru pendamping, termasuk di dalamnya Kepala Sekolah dan Waka Kurikulum, diharapkan mampu menyerap dan merubah paradigma pendidikan lama menuju era pendidikan baru yang lebih akurat.

Ketika rombongan berada di SMA Negeri 5 Surabaya (SMALA), kita mendapatkan banyak hal yang dapat dijadikan sebagai cermin diri untuk segera berbenah dan mereformasi diri (self reform), baik bagi guru, siswa maupun sekolah secara umum agar potret sekolah idaman dapat segera terwujud.

Selepas dari SMALA, rombongan meluncur ke Sidoarjo guna mengamati dari dekat koleksi Musium Mpu Tantular. Berbagai koleksi dipajang, mulai dari peninggalan sejarah jaman Hindu Budha, koleksi budaya sampai koleksi aplikasi IPTEK yang berada di lantai dua. Dengan penuh suka cita penuh heran dan kekaguman, para siswa menggali informasi sekaligus bermain dengan koleksi aplikasi sederhana dari berbagai pengetahuan dasar, khususnya matematika dan fisika. Peserta betul-betul merasa enjoy dan tertantang untuk berkarya lebih lanjut seusai kembali ke kampus tercinta….. SMARI EKA

Kemudian dilanjutkan ISHOMA di Alon-alon dan masjid Agung Sidoarjo dan berikutnya menikmati perjalanan ke Ramayana Departement Store. Banyak hal yang teramati dari aplikasi ekonomi dan managemen, sekaligus sebagai ajang belanja sekedar oleh-oleh dan cindera mata. Menjelang Maghrib rombongan melanjutkan perjalanan ke Jantung JAWA POS dan JTV di lantai 21 Graha Pena Surabaya untuk mengamati dari dekat proses pembuatan suratkabar hingga penyiaran TV (Pas siaran berita POJOK KAMPUNG berlangsung). Dari sini tampaknya peserta baru menyadari bahwa begitu rumit dan mengasyikannya proses jurnalistik berkembang dan dikemas hingga menjadi berita yang enak untuk dinikmati. Setelah itu perjalanan yang melelahkan harus berakhir di Kampus SMARI EKA sekitar tengah malam. Sebagai kompensasi, peserta diharapkan membuat laporan tertulis dari apa yang telah dilihat dan di amati selama kunjungan studi lapangan berlangsung.

Tugas berat yang perlu mendapat prioritas saat ini adalah bagaimana menyiapkan mental peserta didik di Kelas Khusus agar menyadari bahwa potensi diri yang telah dikaruniakan oleh Yang Maha Kuasa dapat dibina, dikembangkan dan tersalur secara optimal dan benar, sehingga mereka mau dan mampu beradaptasi dengan harapan dan tujuan keberadaannya di Kelas Khusus. Ke depan….. peserta didik di Kelas Khusus harus sudah merasakan bahwa “Belajar adalah suatu kebutuhan primer yang harus dipacu dari dirinya sendiri” sehingga keberadaan guru, buku, sarana dan fasilitas lainnya hanyalah sebagai fasilitator keberhasilan dan kesuksesan.

Untuk anak-anakku tercinta…….

Satukan niat – Bulatkan tekad – Kobarkan semangat – Pastikan langkah
Raih Prestasi di Bhumi SMARI EKA
Selamat berkarya – Kami menanti sumbangsih nyata prestasimu

Buatlah Kampus ini Tersenyum Bangga Karenamu

Satu Hati...

Satu Hati...


By : I. Abdul Syukur

SMARI EKA NGANJUK

Asas Black Pendidikan

Posted in ARTIKEL on Januari 2, 2009 by imamasyk

bayu-11

Senyum GemeZz.....

Konon…. di Jepang, negara yang pernah luluh lantah akibat bom atom di tahun 1945 itu, kini sudah mampu bangkit menjadi sebuah negara yang sangat diperhitungkan, baik dari segi budayanya yang sangat mengakar, patriotisme yang tak disangkal lagi, product perdagangan yang sempat membuat pusing negara-negara barat dan sekutunya, kemajuan IPTEK yang luar biasa dan juga pendidikan yang mulai banyak dilirik oleh negara-negara lain khususnya di Asia. Bagaimana tidak….!!?? Terkadang kita merasa iri dan patut acungkan jempol, dengan semangat juang yang tak kenal putus asa dari seluruh elemen bangsa Matahari Terbit itu. Belum lagi proses dan mutu pendidikan yang relatif sama antara sekolah-sekolah di pusat kota dengan sekolah-sekolah yang jauh dari keramaian. Masyarakat mendapatkan menu pendidikan yang berkualitas sama dalam standart yang selalu inovatif dan up to date sehingga tidak heran kalau kemudian Jepang terlihat sebagai bangsa yang seperti sekarang ini.

Salah satu kunci keberhasilan pendidikan di Jepang adalah apa yang disebut jugyokenkyu (asal kata jugyo berarti lesson atau pembelajaran dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengkajian) yang kemudian kita kenal luas sebagai LESSON STUDY yang berarti penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. Kajian tentang Lesson Study sudah diawali di Jepang sejak satu abad yang lalu dan hasilnya sekarang sungguh sangat luar biasa. Barangkali ini bisa menjadi cemeti kecil yang akan mampu menjadi motivasi dan motor ekstra untuk menggerakkan keterlenaan kita sebagai guru dan pendidik dari kubangan stagnasi yang yang menjebak. Terkadang kita terjebak dengan sanjungan dan pujian yang terlanjur melekat pada diri kita sehingga kita beranggapan bahwa kita sudah baik atau bahkan merasa terbaik sehingga tidak perlu lagi belajar, tidak perlu lagi melakukan reseach terhadap apa yang kita lalukan pada anak didik. Atau yang lebih runyem lagi kalau kita kaitkan dengan imbalan materi ataupun reward yang kurang memadai antara guru yang kreatif (baca serius) dengan guru yang sewajarnya. Praktis itu akan lebih menambah beban bagi kita sebagai pendidik untuk tidak dapat berkreasi dan berkarya lebih dalam di dunia pendidikan yang kita cintai ini.

Lepas dari itu semua….., Lesson Study bolehlah kita anggap sebagai tantangan menggairahkan penuh pesona yang harus kita laksanakan dan taklukkan, bukan untuk diperdebatkan atau dikeluhkan, karena penulis yakin bahwa energi yang kita lepaskan untuk melakukan pengkajian terhadap proses pembelajaran tidak akan pernah sia-sia. Pasti ada perubahan…minimal perubahan bagi diri kita sendiri untuk tampil lebih baik di dunia pendidikan sebagai sumbangsih kecil kita untuk negeri dan anak bangsa tercinta ini. Kapan lagi kita mau memulai? Haruskan menunggu komando atau sentuhan proyek negara?

Penulis bukanlah pakar Lesson Study, penulis hanyalah seorang guru biasa yang punya sedikit semangat untuk maju bersama teman-teman pendidik lainnya. Marilah kita duduk semeja menyisihkan sedikit waktu untuk membuat persiapan pembelajaran besuk pagi dengan membuat RPP sederhana misalnya, membicarakan materi-materi esensial dan berdiskusi untuk menentukan metode dan strategi pembelajaran yang menawan yang bisa membuat peserta didik bergairah belajar dengan penuh antusias dan gaul (baca menyenangkan) walau sudah memasuki jam-jam akhir, kemudian esok pagi kita tampil di depan kelas dengan semangat dan enerjik membawakan drama pendidikan yang menawan, sementara teman-teman sejawat (baca guru) memantau ketokohan kita dalam membawakan skenario, dengan memperhatikan seberapa jauh efektifitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dengan tanpa mengusik atau mengganggu jalannya proses pembelajaran sambil mencatat semua keanehan dan kejanggalan yang posisitif ataupun negatif yang kemudian setelah pembelajaran usai, kita bersama teman-teman guru berdialog sekali lagi untuk melakukan refleksi terhadap jalannya proses pembelajaran tadi dengan semangat kekeluargaan dan keinginan untuk maju bersama sehingga ke depan akan diperoleh maha karya pembelajaran yang bisa diharapkan dapat ditunai hasilnya oleh anak cucu kita. Amin. Diperlukan kearifan dan kebesaran jiwa untuk dapat menerima masukan dan saran dari teman-teman selama proses diskusi berlangsung. Itu yang di Lesson Study dikenal dengan tahapan Plan (merencanakan), Do (melaksanakan) dan See (refleksi).

Ini semua butuh keseriusan dan kesabaran. Penulis lebih senang menyebut sebagai tantangan yang harus ditaklukan. Seberapapun beratnya langkah untuk mengawali dan melaksanakan Lesson Study ini, sungguh terasa ringan dan mempesonakan kalau kita mau dan mampu melaksanakannya dengan hati senang dan lapang penuh keiklasan dalam nuansa kebersamaan, saling menghargai dan menghormati. Dan yang pasti……kita berharap hasil yang luar biasa dari setiap usaha pendidikan sebagai kebanggaan seorang pendidik.

Sebagai referensi, kita bisa melihat SMA Lab UM Malang, di tahun keempat pelaksanaan Lesson Study, buah kerja kerasnya sudah mampu ditunai dengan indah. Sebagai salah satu sekolah swasta yang relatif muda usianya dan input siswa yang relatif rendah, notabene sisa dari siswa yang tidak diterima di sekolah menengah negeri, tetapi karena proses yang menakjubkan, mereka mampu mengantarkan siswa-siswinya ke pintu gerbang kampus perguruan tinggi favorit yang diminatinya. Penulis yakin kita semua pendidik juga ingin berbuat yang terindah untuk anak didiknya, dan tak ada jeleknya kita mencoba berbuat sesuatu dari sekedar diam menunggu berita sertifikasi atau mengeluhkan dan menyesali kenaikan BBM.

Kalau sejumlah air panas (suhu tinggi) di campur dengan air dingin (suhu rendah) maka akan kita dapatkan air hangat (suhu sedang). Ilustrasi sederhana ini yang dikenal di Fisika sebagai asas Black. Artinya… energi panas yang dilepaskan oleh air panas yang bersuhu lebih tinggi akan di serap oleh air dingin yang bersuhu lebih rendah sehingga dicapai suhu kesetimbangan sebagai air hangat yang nyaman untuk mandi dan menyegarkan badan. Lesson Study ini yang menurut penulis sebagai aplikasi sederhana dari asas Black dalam dunia pendidikan. Saling memberi dan menerima informasi untuk kemajuan bersama…..Siiiipp…..!!?


Kapan kita harus memulai ? SEKARANG…!!!

Drs. I. Abdul Syukur

Guru Fisika SMA Negeri 1 Nganjuk

Permainan & Ekspresi Seni Dalam Fisika

Posted in ARTIKEL on Januari 2, 2009 by imamasyk

Fisika……. sebagai salah satu pelajaran yang dianggap sulit atau bahkan momok bagi sebagian besar siswa SMP dan SMA. Ini terbukti dengan masih banyaknya keluhan siswa dan rendahnya nilai ujian untuk mata pelajaran tersebut, di samping pelajaran matematika, kimia dan bahasa Inggris. Hal ini juga yang mungkin menjadi pemicu larisnya bimbingan belajar ataupun privat les untuk mata pelajaran di atas.

pbm-21pbm-35kk-3

pbm-4kk-11mob-1

CeriA… seManGaT…KompaK…SeriUss…enjOY…n… suKseSS..

Dengan realita semacam itulah maka kita sebagai guru mata pelajaran yang dianggap momok, harus pandai-pandai mengemas sajian pembelajaran kita sehingga menjadi suguhan yang mengundang nafsu belajar (baca : mengasyikkan) atau bahkan menjadi menu tantangan yang menawan bagi peserta didik untuk lebih bergairah menekuni dan menikmatinya seperti halnya menikmati syahdunya alunan musik yang mendayu.

Penulis yakin sudah banyak upaya dan kreativitas yang sudah dicoba oleh rekan-rekan guru untuk dapat membuat pembelajaran senyaman mungkin sehingga dapat dinikmati dengan indah oleh peserta didik. Dalam hal ini penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dalam mengeksplor Fisika di tengah kejenuhan dan kelesuan siswa sebagai peserta didik. Karena kita sadar bahwa dengan segala keterbatasan yang dimiliki, tidak semua anak didik kita interes dan suka pada pelajaran kita.

Berangkat dari filosofi sederhana bahwa “semua permainan itu menyenangkan, dan kalau dilakukan dengan senang maka semua akan terasa mudah”. Dan salah satu hal yang disuka oleh anak adalah bermain dan seni. Oleh karena itu penulis mencoba memasukkan unsur bermain dan seni itu kedalam dunia fisika dengan harapan fisika akan terbawa menjadi bagian permainan yang menyenangkan bagi anak didik sehingga tanpa terasa fisika akan terlarut dalam kemudahan.

Alhamdulillah, penulis sudah mencoba menerapkan model pembelajaran semacam ini beberapa kali (baca 4 tahun) untuk materi-materi fisika tertentu dengan variasi kreativitas permainan yang berbeda-beda, dan penulis mengamati suatu kebahagiaan, antusias penuh semangat dan luapan kegembiraan yang luar biasa dari peserta didik, walau terkadang mereka harus mandi keringat, berbasah-basah atau menahan sengatan panasnya matahari dengan tanpa mengurangi kualitas fisikanya. Bahkan terkadang tak jarang anak-anak merasa ketagihan dan minta agar kita melakukan pembelajaran semacam itu lagi.

Yang jelas tidak semua materi dapat kita terapkan seperti ini. Dibutuhkan sedikit kejelian untuk memilih materi yang pas dan kreativitas permainan yang menantang khususnya permainan secara kelompok. Ini dimaksudkan untuk membangun nilai-nilai kebersamaan, kerja sama kelompok, kepemimpinan, rela berkorban, tak mudah putus asa dan keberanian untuk berekspresi dari peserta didik guna mewujudkan the winning team yang tangguh.

Sebagai contoh rangkaian permainan yang pernah Penulis integrasikan dalam pembelajaran Fisika adalah dengan tahapan-tahapan sbb :

Pertama : membuat kelompok.
Kita tentukan dulu Kompetensi Dasar (KD) yang akan kita bahas. Kemudian kita membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Pembagian kelompok secara acak inipun sudah berbau permainan. Misal kita ingin membagi kelas yang beranggotakan 40 siswa menjadi 8 kelompok dan masing-masing kelompok 5 orang. Maka kita siapkan 8 gambar (misal bekas kalender) dan tiap-tiap gambar digunting acak menjadi 5 bagian. Kemudian seluruh siswa kita bawa keluar kelas sambil membawa buku, diktat, LKS, kalkulator dan perlengkapan tulis lain yang diperlukan (sesuai dengan kebutuhan KD).

Gambar yang sudah dipotong-potong secara acak sebanyak jumlah siswa tadi kita sebarkan dan siswa akan berebut, tiap siswa hanya boleh mengambil satu potongan gambar. Selanjutnya siswa disuruh menggabungkan gambar yang dia peroleh tadi dengan potongan gambar temannya yang sesuai hingga terbentuk gambar utuh seperti sebelum di potong. Jadilah 8 kelompok sesuai gambar yang masing-masing beranggotakan 5 orang. Masing-masing kelompok diberi kesempatan berunding untuk memberi nama kelompok dengan nama ilmuwan Fisika, misalnya Newton, Einstein, Galileo, Ohm, dan seterusnya. Permainan ini kalau di Pramuka dikenal dengan “Permainan Besar”. Penulis lebih suka memberi nama “Puzzle”
Kedua : Inti Permainan
Pada tahap ini harus disesuaikan jenis permainan dengan waktu dan indikator yang ingin dicapai. Misalnya cukup hanya 3 indikator, maka kita siapkan 3 permasalahan dengan 3 tipe permainan dari yang paling sederhana hingga permaian yang agak komplek sebagai password untuk dapat mengerjakan. Pada tahap ini kental sekali dengan nuansa kompetisi antar kelompok.

Untuk permasalahan pertama, dibuat permasalahan yang relatif sederhana. Misalnya bentuk pertanyaan konsep yang jawabannya bisa diperoleh dari buku materi. Hanya saja sebelum menjawab permasalahan pertama, kelompok harus dapat melewati rintangan yang sudah kita tentukan lewat instruksi di kertas yang sudah ditempel atau diletakkan pada suatu tempat. (misal di pohon) dengan tulisan : “Buat tulisan nama kelompokmu dari rangkaian daun atau barang bekas di atas lantai atau tanah, seindah mungkin. Setelah selesai, kerjakan pertanyaan yang ada di depan Lab Fisika”. Pertanyaan konsep sudah kita tempelkan di tembok depan Lab Fisika.

Setelah kelompok sudah dapat melewati rintangan dan dapat menyelesaikan permasalahan pertama, dengan segera kelompok tersebut melanjutkan misi kedua dengan tanpa harus menunggu kelompok lain selesai, karena ini bersifat kompetisi. Begitu seterusnya hingga semua permasalahan dapat terselesaikan oleh semua kelompok.

Permasalahan kedua (misal berupa soal), bisa kita letakkan pada jarak sekitar 50 meter dari garis start yang sudah ditentukan. Tiap kelompok bisa menggapai soal tersebut dengan cara membuat rangkaian dari semua yang benda atau barang yang menempel pada dirinya (termasuk tubuhnya sendiri) dengan cara sambung-menyambung hingga dapat mencapai soal tersebut. Siswa dapat memanfatkan ikat pinggang, kaos kaki, sepatu, dompet atau apapun, termasuk merebahkan dirinya sendiri agar dapat menggapai soal. Dari permainan ini dapat kita lihat siapa-siapa anggota kelompok yang rela berkorban demi kelompok agar dapat memenangkan kompetisi. Ini benar-benar dibutuhkan kerja sama kelompok yang baik.

Permasalahan ketiga, boleh dikerjakan jika kelompok sudah bisa membuat sebuah puisi bebas dengan nuansa fisika sesuai dengan KD yang sedang dibahas. Misal, KD tentang gelombang.
Ini salah satu contoh puisi karya siswa :

GELOMBANG CINTA
Ketika aku berjalan dengan kecepatan konstan
Mengejar bayangan gelombang cinta yang kau pancarkan
Menelusuri setiap amplitudomu yang mempesona
Agar aku dapat menangkap frekuensi asmaramu
Dan membuat interferensi dua hati
Dengan resonansi yang indah dan syahdu
Sehingga tercipta periode cinta sejati kita

Karya mereka bisa dipajang di mading atau dibacakan di depan kelas.

Ketiga : Refleksi
Setelah semua kelompok merasa dapat menyelesaikan tugasnya, maka dengan kita pandu, seluruh siswa berkumpul di tempat teduh untuk menyamakan persepsi terhadap penyelesaian yang sudah mereka buat, lewat diskusi bersama (bisa sambil lesehan atau berdiri). Setelah itu diambil kesimpulan dari KD yang sedang dibahas. Jangan lupa memberikan reward kepada kelompok yang unggul, baik yang unggul dalam permainan atau dalam menyelesaikan tugasnya. Di samping itu juga harus kita sampaikan makna atau nilai dan hikmah dari permainan yang baru saja dijalani. Misalnya pada permainan “puzzle” tersirat makna bahwa setiap individu punya peran yang harus dihargai oleh kelompoknya, terbukti andai dalam satu kelompok kurang satu potongan saja, maka gambar itu tidak akan sempurna. Begitu juga nilai-nilai kebersamaan kelompok, kepemimpinan, saling menghargai dan sebagainya. Sehingga siswa tahu betul bahwa permainan ini bukan sekedar bermain tapi juga bermakna mendidik.

Keempat : Refreshing
Ini merupakan penutup. Pada tahap ini dapatnya diciptakan suasana enjoy yang benar-benar fresh untuk menghapus segala kepenatan dan kelelahan sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan. Misal, tiap-tiap kelompok disuruh menciptakan yel-yel kelompok dan ditampilkan di depan teman-temannya sekaligus dipilih secara objektif dan aklamasi mana yel-yel yang terbaik dari masing-masing kelompok. Atau bisa juga siswa disuruh membaca puisi karya mereka tadi.
Setelah tahap ini kita bisa memberi tugas rumah secara individu dan menutup rangkaian pembelajaran dengan aplous dan tetap memberi semangat pada peserta didik dengan keyakinan.

Kalau kita mampu mengemas pembelajaran Fisika dalam bentuk permainan…. amboi…. Penulis yakin Fisika akan menjadi primadona bagi anak didik. Tapi yang perlu diperhatikan adalah perkiraan waktu dengan kemasan permainan dan target indikator yang ingin dicapai. Kalau tidak jeli dalam meminit waktu, dikuatirkan akan terhenti di tengah jalan terpotong oleh suara merdu yang melintas…. yaitu bunyi BEL tanda pelajaran berakhir.

Bisa juga kita merancang permainan yang dapat dilakukan di dalam kelas misalnya dengan permainan kartu soal. Tiap anak kita wajibkan membuat dua soal pilihan ganda dengan buku sumber bebas, asal anak tersebut tahu penyelesaianya. Soal ditulis di kertas seukuran kartu remi. Kemudian kita suruh menempelkan pada kartu remi. Satu kartu, satu soal, sehingga terkumpul sekitar 80 kartu soal dan diberi nomor 1-80. Penyelesaian soal ditulis di buku masing-masing.

Aturan permainannya, Kartu kita bagikan, tiap kelompok mendapat 1 kartu dan sisa kartu si taruh di depan. Tiap kelompok berkompetisi mengerjakan kartu soalnya. Setelah selesai dikerjakan, kartu di tukarkan dengan dengan kartu soal yang ada di depan, sedang kartu yang ditukar tadi tidak boleh dikerjakan oleh kelompok lain. Begitu seterusnya, sehingga kelompok yang cepat mengerjakan akan mendapatkan jumlah soal yang banyak, sedang kelompok yang lambat akan mendapat jumlah soal sedikit. Jadi tiap kelompok mendapatkan jumlah kartu soal yang tidak sama. Permainan berakhir ketika semua soal habis dikerjakan.

Berikutnya, tiap kelompok menuliskan nomor soal dan jawabannya (abjadnya saja) di papan tulis, kemudian di cocokan bersama dengan korektor masing-masing soal adalah pembuatnya sendiri. Tiap kelompok diberi penilaian dengan skor 4 jika jawaban benar dan -1 jika salah. Kelompok yang mendapat nilai terbesar ditentukan sebagai pemenangnya dan mendapat reward, sedang yang belum menang tetap diberikan semangat dan penghargaan atas usahanya.
Permainan dengan kartu soal ini sangat cocok sebagai media latihan menjelang ulangan blok ataupun ulangan semester.

Sebagai langkah inovatif, sebenarnya model permainan semacam ini (baik di dalam ataupun di luar kelas) juga sangat mungkin diterapkan untuk mata pelajaran lain di luar Fisika, tentunya dengan berbagai variasi dan modifikasi yang disesuaikan dengan nuansa pelajaran masing-masing. Penulis juga sadar bahwa model permainan ini mungkin dinilai kurang begitu efektif. Tetapi sebagai bentuk kreasi variasi pembelajaran dan media menanamkan nilai-nilai pendidikan, barangkali tidak ada jeleknya untuk dicoba…..sebagai metode alternatif. Paling tidak sebagai salah satu bentuk usaha kita sebagai pendidik dalam kerangka motivation training bagi anak didik kita.

Sebagai sumber inspirasi variasi permainan ada baiknya memiliki buku semacam Creativity games-Adi Soenarno, Team Building-Adi Soenarno, 40 latihan & Training Games Islami-Muhammad Irsan ataupun sumber lain yang relevan, seperti banyak kita temukan di internet misalnya.
Kalau semua guru di Indonesia mau melakukan sedikit saja perubahan kearah yang lebih baik, maka perubahan luar biasa pasti akan terjadi di bumi pertiwi ini dan bisa kita nikmati pada generasi mendatang.
Semoga…..

…..Selamat Berkarya untuk anak negeri….
Sekecil apapun karya kita semoga menjadi amal
Siiippp…!!!??

<i>Rumah Belajar Fisika</i>

Rumah Belajar Fisika

By: Drs. I. Abdul Syukur
SMA Negeri 1 Nganjuk