Andai Kamu Bisa Tersenyum

Terkadang hidup  harus berhenti sejenak untuk dapat memikirkan tentang apa yang sudah kita lakukan, berfikir untuk merenung, merenung untuk kebaikan, kebaikan untuk diri dan orang lain. Kalau toh belum bisa berbuat yang terbaik, paling tidak pernah berbuat satu kebaikan, walaupun itu kecil dan tak berarti, tapi itulah yang terbaik dari sekedar diam tak berbuat…

 

Ketika aku belajar mendengarkan apa yang dikeluhkan anak didikku tentang karakter seorang guru dalam mengajar, ada yang bilang :  “aku ga mau jadi guru ahh…”

“Kenapa?” tanyaku..

“guru kok gak pernah membuat siswanya tersenyum… sukanya marah-marah, kasih tugas… pa ga boleh to guru tu frendly… gaul gitu… biar muridnya seneng dan bisa belajar dengan suka tanpa tekanan?” dengan mimik protes kaya artis…

Kedengarannya lumprah saja kalau ada murid yang menggunjing guru, tapi sempat membuat telingaku tersentuh dan segera terbayang ketika aku masih menjadi siswa. Memang ada sebagian karakter guru yang seperti itu, tapi itu dulu. Di era sekarang tampaknya banyak hal yang berubah. Anak didik lebih kritis, lebih kaya pengetahuan, lebih menuntut peran serta dan penghargaan sebagai individu, sehingga mau tidak mau guru mempunyai tantangan baru untuk memerankan diri sebagai pendidik yang dikehendaki anak dengan tanpa meninggalkan sebagai “sosok” pribadi seorang guru, agar kita tidak “ditinggalkan” dalam memberi warna kehidupan bagi mereka.

 

Tugas berat guru sebagai pendidik, tidak hanya sekedar mengajarkan apa yang seharusnya diajarkan, tetapi lebih pada muatan bagaimana bisa memberikan motivasi dan nuansa indah agar mereka mau dan tahu bagaimana seharusnya belajar yang bermakna. Belajar dengan sepenuh kesadaran dan ketulusan. Bagaimana membuat mereka tersenyum atau tertawa.. dan menanamkan image bahwa belajar itu kebutuhan, belajar itu menyenangkan, belajar itu membanggakan. Sehingga tidak ada lagi amarah yang terdengar dari seorang guru, tidak ada lagi kecemasan pada diri siswa. Yang ada adalah senyum dan semangat belajar bersama untuk bisa. Pasti terasa indah…

 

Semoga.. di sisa pengabdian kita sebagai guru,  masih sempat membuat anak didik kita tersenyum dan mengenangnya sebagai memori indah untuk dapat diceritakan kepada anak cucunya kelak dan yang lebih penting lagi bisa terpateri sebagai pribadi yang membanggakannya. Betapa indahnya kalau seorang murid membanggakan gurunya dan guru membanggakan muridnya… Luar biasa… Sungguh suatu pembelajaran yang bermakna….semoga…. sipPz…

4 Tanggapan to “Andai Kamu Bisa Tersenyum”

  1. Aha Gambreng Says:

    Hemm… siswa memang suka memandang stereotipe kepada guru… satu saja guru yang tidak sesui dengan hati mereka.. maka guru yang satu tersebut akan menjadi wajah untuk seluruh guru yang ada… tapi kita tidak berharap demikian… kita sangat mendabakan guru yang dapat memotivasi siswanya… dan siswa nyaman bersamanya……

  2. key makasih banget commentx… mencoba berubah ke arah yang lebih bijak… moga bisa n pasti bisa… sipPz…

  3. dewi enda Says:

    Banyak guru dlm hidup ini Pak. tapi jarag ada yg memberikan pemahaman akan hidup. Selamat mengajar Pak.
    We miss you..

  4. Tq… lama tak buka blog jd kangen juga… salam sukses…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: