SEKOLAH ZAKAT

Sebagai warga negara Indonesia, maka mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan adalah hak, sekaligus kewajiban sebagai umat. Di satu sisi ada keinginan dan minat belajar yang luar biasa, bisa menjadi motivasi tersendiri untuk meraih sukses, namun di sisi lain keterbatasan ekonomi sering menjadi kendala yang menghambat bahkan kadang menumbangkan keinginan untuk meraih cita. Oleh karena itu perlu difikirkan solusi alternatif yang dapat menjembatani antara keterbatasan dan keinginan tersebut. Salah satunya adalah dengan Sekolah Zakat

KESADARAN ZAKAT

Penduduk Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim, tentunya ada sekian prosen yang mempunyai kewajiban untuk berzakat atas kelebihan rejeki yang telah dilimpahkan oleh Yang Maha Kasih kepada mereka. Sesuai dengan tuntunan agama (Islam), bahwa di sebagian rejeki yang dianugerahkan Allah kepada kita, terdapat hak untuk orang lain (fakir, miskin, yatim dan sebagainya). Dan itu wajib dikeluarkan dalam bentuk zakat (mal), infaq, sodaqoh dan lain sebagainya. Itu semua merupakan potensi yang luar biasa yang belum sempat digali, dikelola dan dioptimalkan dengan baik sebagai salah satu sumber dana alternatif untuk membantu masalah ekonomi di bidang pendidikan.

Masalahnya adalah kesadaran untuk mengeluarkan sebagian hartanya sebagai pensuci rejeki, belum seluruhnya terbangun dan membudaya dengan baik. Sehingga perlu tauladan atau “Gerakan beramal dan berzakat” dari tokoh dan pejabat (khususnya di lingkar pemerintah), sehingga bisa langsung dilihat dan dinikmati oleh masyarakat kebanyakan. Maka ke depan diharapkan masyarakat kelas menengah ke atas lambat laun akan terbangun kesadaran untuk peduli terhadap zakat, infaq dan shodaqoh.

Gerakan ini bisa dimulai, misalnya diberlakukan kepada pegawai yang sudah eselon atau yang sudah mencapai pangkat golongan minimal IVa atau kriteria-kriteria tertentu misalnya pengusaha atau kontraktor atau yang lain.

Problem berikutnya adalah keberadaan badan atau lembaga yang mampu mengelola dengan amanah, sehingga ada kepercayaan dan keikhlasan dari semua pihak. Sayangnya kepercayaan ini gampang-gampang susah, tidak bisa dibeli atau dibangun dengan mudah. Perlu proses yang indah untuk mewujutkannya. Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam ikut melakukan fungsi kontrol (sosial) mutlak diperlukan.

ANDAI…. ADA SEKOLAH ZAKAT

Andai ada satu lembaga atau yayasan (semacam pendidikan atau sekolah) yang benar-benar indipendent dan amanah untuk mengelola dana zakat, infaq dan shodaqoh, (Penulis sebut sebagai Sekolah Zakat) yang dikembangkan dan disalurkan dalam bidang pendidikan, mulai dari strata pendidikan yang paling rendah hingga jenjang pendidikan tinggi, dengan skala prioritas tertentu, amboy……pasti akan banyak kaum dhuafa dan fukhoro masakin yang akan tersenyum dan berdoa untuk kelangsungannya.

Ambil contoh, ada yayasan pendidikan “El Syukur” misalnya, sebagai lembaga yang dipercaya masyarakat untuk mengelola dana yang digalang dari zakat, infaq dan shodaqoh umat untuk pendidikan. Kemudian Pengelola membebaskan seluruh beaya pendidikan semua siswanya yang notabene siswa dari kalangan kurang mampu, (mulai uang seragam, uang buku, BP-3, uang kegiatan dan sebagainya), karena semua beaya operasional pendidikan sudah tercukupi dari zakat, infaq dan shodaqoh. Tentulah yang demikian itu akan menjadi mercusuar pendidikan kebanggaan umat sekaligus sesuatu yang perlu dikembangkan untuk masa yang akan datang.

EMBRIO GERAKAN NASIONAL

Kita semua makfum dengan kondisi dan realitas sekarang. Betapa mahalnya beaya pendidikan untuk perguruan tinggi. Akankah anak-anak bangsa yang jauh dari kemakmuran ekonomi bisa mengenyam bangku perguruan tinggi tanpa adanya solusi dan kebijakan yang memihak pada mereka? Semoga Undang-undang BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang telah disahkan bisa menjadi sedikit harapan, walau banyak mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan, pastilah lambat laun akan menjadi hal yang biasa. Dan itu dirasakan oleh sebagian masyarakat sebagai pil pahit yang menjadi tantangan yang harus ditaklukkan dengan berbagai solusi yang bijak. Mungkin dengan zakat, infaq dan shodaqoh pula bisa menjadi beasiswa yang berkah dan barokah untuk mereka yang benar-benar perlu dan memerlukan bantuan pendidikan.

Image yang berkembang di masyarakat bahwa kran pendidikan bermutu hanya milik dan hanya bisa dinikmati oleh sebagian mereka yang mampu secara ekonomi tidak semuanya benar. Ternyata ada sebagian anak lain yang berada di bawah garis impianpun juga bisa mendapatkan pendidikan yang baik lewat Sekolah Zakat ataupun Gerakan sadar zakat, infaq dan shodaqoh.

Semoga ke depan ini semua tidak hanya sekedar menjadi polemik benar salah atau hanya sekedar ide saja, tetapi bisa menjadi mimpi nyata yang indah, khususnya di daerah sekecil Nganjuk. Tentunya bisa menjadi embrio yang kelak menjadi Gerakan Nasional. Semoga….. Amin.

Drs. Imam Abdul Syukur

Guru Fisika SMA Negeri 1 Nganjuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: