SEKOLAH SEMI PRIVAT

Sekolah sebagai lembaga formal yang diyakini dan diharapkan dapat menjadi ladang pendidikan yang mampu mencetak generasi yang handal dan profesional, menjadi satu tantangan tersendiri bagi praktisi pendidikan dan pemerintah untuk berkreasi dan berbenah diri guna merenovasi diri (self reform) dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang akhir-akhir ini banyak mendapatkan sorotan dan tanda tanya.

Seiring dengan semangat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang mengedepankan Student Center dan gema School Based Management yang telah dipopulerkan beberapa tahun silam, membuka kesempatan yang luas bagi dunia pendidikan untuk berkiprah, dalam kerangka meningkatkan mutu pendidikan, sehingga muncul berbagai inovasi pendidikan yang berkompetisi merebut simpati dan minat masyarakat untuk menjadi salah satu pilihan yang menggiurkan di hati masyarakat selaku konsumen pendidikan.

Banyak sekolah negeri yang menjadi favorit dan idaman masyarakat karena kekhasan dan keunggulannya di salah satu atau berbagai bidang yang mampu mencuatkan popularitasnya, tetapi ada juga sekolah swasta yang mampu bersaing atau bahkan lebih unggul dalam merebut simpati masyarakat, walau dengan beaya yang relatif cukup tinggi. Di kota besar, sebut misalnya SMAN 5 Surabaya, SMAN 3 Malang, MAN 3 Malang, sekolah Ciputra, Petra, Santo Yusuf, Al-Azhar, Ta’miriyah, SMA Taruna dan sebagainya, Ukuran di kota kita semacam SDIT Baitul Izzah atau yang lain. Mereka bisa eksis dengan gaungnya yang luar biasa karena punya kekhasannya yang bisa dibanggakan dan dipertanggungjawabkan.

Andai aku bisa

Berangkat dari angan-angan seorang guru yang mendambakan sebuah pendidikan dengan pembelajaran yang efektif dan efisien, penulis mencoba menimba pengalaman dari kegiatan yang dikekolanya sebagai miniatur kelas di sekolah yaitu bimbingan semi privat yang dikelola secara amatir di lingkup rumahnya yang diberi nama PHYSICAL HOUSE LEARNING atau Rumah Belajar Fisika. Tiap kelompok kelas hanya berisi 3 – 8 orang. Dengan nuansa Quantum Learning, menjadikan siswa sebagai warga belajar menemukan keasyikan tersendiri dalam belajar karena merasa terlayani secara individu sesuai dengan potensi dan minat yang ada pada pribadi siswa. Guru sebagai fasilisator lebih bisa memperhatikan perkembangan potensi akademik siswa secara perorangan karena jumlahnya yang relatif sedikit sehingga siswa merasa lebih nyaman, jauh dari perasaan takut karena tidak bisa atau dimarahi dan bahkan dapat membangun komunikasi dari hati ke hati sehingga bisa menanamkan nilai-nilai affektif, religi dan etika pada siswa.

prisma-lesdita-lesade-leslia-lesmina-lesnanda-les1

Dalam skala yang lebih besar, penulis mulai berandai-andai, andai pembelajaran di sekolah bisa dilaksanakan semacam ini, wow…. alangkah indahnya pendidikan ini. Ruang kelas yang besar-besar, yang rata-rata berukuran 8 m x 9 m tidak diperlukan lagi, cukup ruangan berukuran 3 m x 4 m dengan nuansa nyaman dan asri yang dihuni maksimal 10 orang siswa, sehingga 1 ruang kelas besar bisa disekat menjadi 6 ruangan kecil yang berarti 1 kelas bisa menjadi 6 kelas, sehingga beaya pembangunan fisik sekolah relatif dapat dikendalikan. Hanya problemnya, tiap sekolah hanya akan memiliki jumlah siswa yang relatif sedikit. Misal, kalau sebuah SMA mempunyai 10 kelas paralel untuk untuk tiap tingkat (kelas X, XI dan XII), maka jumlah siswa keseluruhan hanya 300 orang (30 kelas @ 10 orang). Praktis volume pekerjaan dari masing-masing perangkat sekolah akan jauh lebih ringan. Sebagai contoh, Wali kelas akan lebih banyak waktu untuk memperhatikan perkembangan potensi siswanya, BK akan lebih leluasa untuk memberikan bimbingan yang lebih optimal, tugas TU akan jauh lebih ringan, apalagi tugas guru, penulis yakin bahwa seorang guru akan bisa lebih berdaya dalam memberikan yang terbaik untuk putra putrinya. So pasti kenakalan dan problematika siswa yang selama ini banyak dikeluhkan oleh berbagai kalangan, dengan sendirinya akan terkikis seiring dengan bentuk perhatian dan bimbingan yang lebih memadai, karena setiap bibit-bibit penyimpangan yang menjadi embrio kenakalan siswa/remaja akan mudah terdeteksi sejak dini.

Tingkat kompetisi akan tercipta dengan sendirinya dan profesional, karena masing-masing individu merasa terlayani dengan baik. Apalagi kalau dipermak atau dihiasi dengan fasilitas penunjang yang lebih memadai, yang memungkinkan potensi akademik dan sistem secara keseluruhan dari siswa sebagai warga belajar dan guru sebagai motor motivasi lebih dapat berpacu seirama, maka percepatan kesuksesan pendidikan di bumi pertiwi ini menjadi cepat terwujud dan Indonesia baru yang diimpikan para pejuang persada ini menjadi nyata. Hanya problemnya, akan banyak sekolah-sekolah baru bermunculan untuk dapat menampung semua anggota masyarakat pada usia sekolah.

Tapi tidak ada jeleknya untuk dicoba, andai ada kemudahan dan potensi dalam kolaborasi mendirikan sebuah lembaga semacam sekolah formal, dengan model semacam ini (Penulis memberi nama Sekolah SEMI PRIVAT), maka Penulis sangat optimis dan yakin, ke depan ….. Sekolah yang menawarkan program atau model semacam ini akan dapat bersaing secara sehat dengan sekolah-sekolah seniornya. Masalahnya, secara otomatis beaya pendidikan yang dibebankan kepada para siswa akan lebih tinggi, karena beaya yang biasanya per kelas dipikul oleh rata-rata 40 orang, kini harus dinikmati sekitar 10 orang saja. Tetapi yang lebih prinsip, output dari proses pendidikan model semacam ini diyakini lebih menjanjikan, dan orang tua selaku penyandang dana sudah sedemikian cerdik dan kritis untuk menyikapi dan mengambil keputusan yang terbaik bagi anak-anaknya. Entoh kata sebagian orang bijak, “Investasi di dunia pendidikan itu tidak pernah basi”. Masyarakat akan rela dan merelakan untuk membeayai putra putrinya dengan beaya yang mahalpun, asal timbal balik yang diperolehnya juga memadai.

Apa yang penulis tuangkan ini hanya sekedar obsesi dari seorang guru yang berangan-angan. “ ANDAI AKU BISA “ Dan ternyata penulis bukan siapa-siapa. Yang penting ada action dari setiap insan pendidikan untuk mau mereformasi diri untuk berinovasi ke arah yang lebih posisif dan riil.

You will not fail until you stop trying

Terima kasih.

Nganjuk, 3 Oktober 2006

By : Imam Abdul Syukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: